Suatu malam tepatnya malam
minggu, dimana Satria seorang pria jomlo menghabiskan malam minggunya di sebuah
taman jajan dengan kesendiriannya. Dan pada saat itu turun hujan yang sangat
deras, merasa kedinginan ia pun memutuskan untuk membeli secangkir kopi susu di
sebuah cafe untuk melawan rasa dingin yang mulai menyerang tubuhnya. Dengan
berlari kecil menghindari hujan ia pun menuju sebuah cafe yang menjadi
tujuannya, setelah memesan secangkir kopi susu ia pun berjalan menuju meja yang
berada di bagian luar untuk menghabiskan secangkir kopi susu yang telah
dipesannya dan untuk bersantai-santai menunggu hujan reda.
Waktu menunjukan pukul 23.30,
hujan pun belum juga reda. Dibalik derasnya hujan ia pun menyalakan sebatang
rokok sambil melihat-lihat suasana sekitas taman jajan tersebut yang ternyata sudah
mulai sepi. Tatapannya terhenti ketika melihat seorang wanita yang sedang
menangis di depan sebuah restoran yang sudah tutup, karena ia merasa kasihan
dan penasaran dengan apa yang dialami oleh wanita tersebut akhirnya ia pun
menghampirinya. “ Maaf, kalau saya boleh
tau kenapa kamu nangis ? “ tanya Satria. “ Enggak, aku gak papa ko ” Jawab wanita itu sambil menangis. Melihat
keadaan wanita tersebut yang sudah basah kuyup diguyur hujan, ia pun semakin
kasihan dan tidak tega melihat wanita tersebut. Ia pun melepaskan jaket yang ia
gunakan dan menawarkan kepada wanita itu agar ia mau menggunakannya dan tidak
merasa kedinginan lagi. “Hmm.. nih pake
aja jaket saya” Satria menawarkan, “
Enggak, gak usah. Terimakasih ” tolak si wanita tersebut. “ Udah pake aja, daripada kamu kedinginan
gitu. Nanti yang ada kamu malah sakit lagi “ Satria memaksa. “ Terima kasih yah.. “ jawabnya sambil
tersenyum kecil. Akhirnya wanita itu pun mau menggunakan jaket yang ditawarkan
Satria. “ oh iya kenalin. Nama saya
Satria ” membuka perbincangan sambil menjulurkan tangannya, “ Nama ku Andini “ jawabnya dan menjabat
tangan Satria. “ Nama yang bagus “
Satria coba menghibur. “ oh iya, kenapa kamu nangis ? dan mungkin saya
bisa menjadi tempat curhat mu “ Tanya Satria ingin tahu. “hmm.. Aa..aakuu baru saja putus dengan pacar
ku, ternyata dia selingkuh dan dia selingkuh dengan sahabatku sendiri “ Andini mulai bercerita. “ Ya ampun.. tega sekali dia mengkhianati kamu
seperti ini. Tapi sudahlah mungkin dia memang bukan yang terbaik buat kamu, dia
lelaki yang bodoh telah menyia-nyiakan kasih sayang dari wanita setulus dan
secantik kamu “ Satria coba menenangkan. “ Atas daras apa kamu bisa bilang kalau aku tulus ? “ tanya Andini, “ yaa kalau kamu gak tulus gak mungkin kan
kamu nangis seperti ini “ jawab Satria. Dan Andini pun hanya bisa tersenyum
lirih.
Saat ini waktu menunjukan pukul
00.15 dan suasana sudah semakin sepi. “
eh iya sudah makin malem nih. Saya antar pulang yah ? rumah mu dimana ? ”
Satria menawarkan. “eeh gak usah, terima
kasih. Aku gak mau ngerepotin kamu, biar aku naik taksi aja yah ? “ Andini
pun menolak tawaran Satria. “ hey..
Bahaya loh malam-malam gini perempuan pulang sendirian. Udah ayo naik “.
Andini pun menaiki motor Satria “ iya
sih.. tapi sekali lagi maaf yaah, aku jadi ngerepotin kamu ? ”. “ Udah gak papa
ko, tenang aja lagi “ jawab Satria. Selama diperjalanan mereka berbincang
tentang keseharian mereka masing-masing, tentang dimana tempat kuliah mereka,
apa hobi mereka, dan masih banyak lagi. Dan akhirnya mereka pun sampai di rumah
Andini, “ Satria, terima kasih banyak yah
“ Ucapan terima kasih dan lemparan senyum manis dari Andini. “ Iya sama-sama Andini “ Satria pun
melemparkan senyum. Andini pun beranjak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Satria
memanggil namanya “Dini ! “, dan dini
pun menoleh kaget ke arah Satria “ Iya,
ada apa ? “. “ Aku boleh minta nomor
handphone mu gak ? “. “ oh iya boleh
ko, catat yaah “ Andini pun menyebutkan nomor handphonenya. Akhirnya mereka
pun semakin sering berkomunikasi, membicarakan hal-hal tentang materi kuliah
masing-masing, tentang hobi mereka yang sama. Mereka memilik hobi yang sama,
yaitu fotografi dan mereka sering bertukar pikiran tentang hal-hal berbau
fotografi. Sampai pada akhirnya Satria mengajak Andini untuk hunting mencari
tempat yang pas untuk mereka ber foto ria. Mereka memilih taman sebagai lokasi
untuk foto-foto mereka, terlihat penuh keceriaan. Tak ada lagi kesedihan yang
terlihat dari raut wajah Andini, semua berjalan begitu indah. Sering mereka
melakukan banyak hal secara bersamaan, seperti jalan-jalan, makan, hunting
lokasi pemotretan, dan menonton film di bioskop. Nampaknya di antara mereka
masing-masing mulai tumbuh benih-benih cinta. Sampai pada akhirnya disuatu
tempat saat mereka sedang berjalan-jalan bersama, Satria pun menyatakan
cintanya kepada Andini dengan sekuntum bunga mawar merah dan kasih sayang yang
tulus darinya. Akhirnya semua perjuangannya berujung manis, Andini pun menerima
cintanya. Semakin hari semakin sering mereka melakukan banyak hal bersama-sama
dan semakin kuat pula ikatan cinta mereka. Sempat mereka berpikir “mungkin
inilah cinta sejati ku”, tapi beberapa minggu terakhir sudah tak ada kabar lagi
dari Satria untuk Andini. Dan Andini pun bingung dan khawatir dengan keadaan
kekasihnya tersebut, ia mencoba menelpon ke telepon genggam milik Satria tapi
tak diangkat, ia mencoba menelpon ke telepon rumahnya pun tak ada jawaban.
Andini takut bila terjadi hal buruk yang menimpa kekasihnya itu. Dan ternyata
kekasihnya tersebut dirawat disebuah rumah sakit karena penyakit kanker otak
yang dideritanya sejak lama kambuh kembali dan menjadi semakin parah. Satria
selalu menyembunyikan hal ini kepada Andini dengan alasan ia tak ingin melihat
Andini sedih. Lambat laun rahasia Satria terungkap ketika salah seorang
temannya memberi tahukan keadaan Satria yang sedang dirawat di rumah sakit
kepada Andini. Mendengar kabar tersebut Andini pun langsung bergegas menuju ke
rumah sakit tempat dimana kekasihnya dirawat. Dengan air mata yang jatuh dan
kepanikan yang menjadi-jadi Andini berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit
dan mencari dimana ruangan tempat kekasihnya dirawat. Setelah menemukan ruangan
tersebut, Andini mencari Satria, dan dipeluknya erat Satria sambil Andini
menangis. “ Sudah sayang, kamu jangan
nangis. Aku gak papa ko “ kata Satria Tegar. Andini pun terus menangis
sekencang-kencangnya seakan takut kehilangan kekasihnya. Dihapusnya air mata
Andini yang jatuh ke pipi oleh Satria,
Andini terus memeluk Satria dan tak mau melepaskannya.
Dihari-hari berikutnya Andini
selalu menemani Satria di rumah sakit, merawatnya, menghiburnya, dan
mengajaknya bercanda bersama. Dan disuatu malam ketika Andini sedang menemani
Satria, tiba-tiba satria berkata “ Aku
gak mau tidur yah ? Aku takut kalau nanti gak bangun lagi “. Mendengar
perkataan tersebut Andini pun semakin takut dan terus menggenggam tangan Satria sambil berkataa “ Sayang kamu gak boleh ngomong gitu, umur tuh rahasia tuhan. Kamu
pasti sebuh pahlawanku, sekarang kamu istirahat yaah.. biar kamu cepat sembuh
dan nanti kita bisa jalan-jalan lagi, hunting foto bareng lagi,kita
nonton-nonton lagi “ Andini pun tak
kuasa menahan tangis. Ketika pagi tiba dan sudah tiba waktu untuk dokter
memeriksa kondisi Satria, Andini pun membangunkan Satria dengan lembutnya. “ Good morning sayang, ayo bangun. Pak dokter
mau periksa kamu nih. Kali aja hari ini kamu bisa pulang ”. Dan tak ada
respons dari Satria, Satria tetap tertidur dengan lelapnya. Terus dibangunkan
namun satria tak kunjung menyaut, Andini pun semakin panik dan ketakutan. “ Mari biar saya cek “ kata pak dokter.
Dokter tersebut pun segera memeriksa keadaan Satria, setelah memeriksa keadaan
Satria dokter pun memegang pergelangan tangannya apakah masih ada denyut
nadinya atau tidak. Ternyata nadi Satria sudah berhenti berdenyut dan dokter
pun menutupi seluruh tubuh Satria dengan sebuah kain yang digunakan biasa
sebagai selimut. Andini pun kaget dan bingung dengan apa yang terjadi saat itu,
dan Andini pun bertanya dengan paniknya kepada dokter tersebut “ Dok apa yang terjadi dengan pacar saya dok
?!! “. “ Ikhlas kan lah kepergiannya,
ia telah pergi meninggalkan kita semua ” jawab si dokter. Andini pun tak
percaya dan langsung memeluk jasad kekasihnya yang sudah tak bernyawa, Andini
pun tak kuasa menahan tangis atas kepergian Satria yang sangat ia cintai.
Andini terus mencoba membangunkan kekasihnya yang sudah pergi meninggalkannya
untuk selamanya, dan berharap ada sebuah keajaiban agar Satria bisa hidup
kembali dan melewati hari-harinya bersama kembali.
Semenjak Satria meninggalkannya untuk
selama-lamanya ia hanya bisa menghabiskan waktunya dengan menangis dan melamun
mengingat masa indah mereka saat mereka melakukan segala hal secara bersama.
Semakin hari semakin dalam rasa rindunya kepada Satria, kini ia hanya bisa
menatapnya melalui foto-foto yang tertempel didinding kamarnya. Semakin dalam
ia menatap foto-foto itu semakin dalam pula rasa sedih yang dirasakannya. Namun
kini ia mencoba untuk tegar dan ikhlas atas apa yang telah terjadi kepada
kekasih yang sangat ia cintai.