Rabu, 01 Mei 2013

Hujan Cinta Taman Jajan


Suatu malam tepatnya malam minggu, dimana Satria seorang pria jomlo menghabiskan malam minggunya di sebuah taman jajan dengan kesendiriannya. Dan pada saat itu turun hujan yang sangat deras, merasa kedinginan ia pun memutuskan untuk membeli secangkir kopi susu di sebuah cafe untuk melawan rasa dingin yang mulai menyerang tubuhnya. Dengan berlari kecil menghindari hujan ia pun menuju sebuah cafe yang menjadi tujuannya, setelah memesan secangkir kopi susu ia pun berjalan menuju meja yang berada di bagian luar untuk menghabiskan secangkir kopi susu yang telah dipesannya dan untuk bersantai-santai menunggu hujan reda.

Waktu menunjukan pukul 23.30, hujan pun belum juga reda. Dibalik derasnya hujan ia pun menyalakan sebatang rokok sambil melihat-lihat suasana sekitas taman jajan tersebut yang ternyata sudah mulai sepi. Tatapannya terhenti ketika melihat seorang wanita yang sedang menangis di depan sebuah restoran yang sudah tutup, karena ia merasa kasihan dan penasaran dengan apa yang dialami oleh wanita tersebut akhirnya ia pun menghampirinya. “ Maaf, kalau saya boleh tau kenapa kamu nangis ? “ tanya Satria. “ Enggak, aku gak papa ko ” Jawab wanita itu sambil menangis. Melihat keadaan wanita tersebut yang sudah basah kuyup diguyur hujan, ia pun semakin kasihan dan tidak tega melihat wanita tersebut. Ia pun melepaskan jaket yang ia gunakan dan menawarkan kepada wanita itu agar ia mau menggunakannya dan tidak merasa kedinginan lagi. “Hmm.. nih pake aja jaket saya” Satria menawarkan, “ Enggak, gak usah. Terimakasih ” tolak si wanita tersebut. “ Udah pake aja, daripada kamu kedinginan gitu. Nanti yang ada kamu malah sakit lagi “ Satria memaksa. “ Terima kasih yah.. “ jawabnya sambil tersenyum kecil. Akhirnya wanita itu pun mau menggunakan jaket yang ditawarkan Satria. “ oh iya kenalin. Nama saya Satria ” membuka perbincangan sambil menjulurkan tangannya, “ Nama ku Andini “ jawabnya dan menjabat tangan Satria. “ Nama yang bagus “ Satria coba menghibur.  “ oh iya, kenapa kamu nangis ? dan mungkin saya bisa menjadi tempat curhat mu “ Tanya Satria ingin tahu. “hmm.. Aa..aakuu baru saja putus dengan pacar ku, ternyata dia selingkuh dan dia selingkuh dengan sahabatku sendiri  “ Andini mulai bercerita. “ Ya ampun.. tega sekali dia mengkhianati kamu seperti ini. Tapi sudahlah mungkin dia memang bukan yang terbaik buat kamu, dia lelaki yang bodoh telah menyia-nyiakan kasih sayang dari wanita setulus dan secantik kamu “ Satria coba menenangkan. “ Atas daras apa kamu bisa bilang kalau aku tulus ? “ tanya Andini, “ yaa kalau kamu gak tulus gak mungkin kan kamu nangis seperti ini “ jawab Satria. Dan Andini pun hanya bisa tersenyum lirih.

Saat ini waktu menunjukan pukul 00.15 dan suasana sudah semakin sepi. “ eh iya sudah makin malem nih. Saya antar pulang yah ? rumah mu dimana ? ” Satria menawarkan. “eeh gak usah, terima kasih. Aku gak mau ngerepotin kamu, biar aku naik taksi aja yah ? “ Andini pun menolak tawaran Satria. “ hey.. Bahaya loh malam-malam gini perempuan pulang sendirian. Udah ayo naik “. Andini pun menaiki motor Satria “ iya sih.. tapi sekali lagi maaf yaah, aku jadi ngerepotin kamu ? ”. “ Udah gak papa ko, tenang aja lagi “ jawab Satria. Selama diperjalanan mereka berbincang tentang keseharian mereka masing-masing, tentang dimana tempat kuliah mereka, apa hobi mereka, dan masih banyak lagi. Dan akhirnya mereka pun sampai di rumah Andini, “ Satria, terima kasih banyak yah “ Ucapan terima kasih dan lemparan senyum manis dari Andini. “ Iya sama-sama Andini “ Satria pun melemparkan senyum. Andini pun beranjak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Satria memanggil namanya “Dini ! “, dan dini pun menoleh kaget ke arah Satria “ Iya, ada apa ? “. “ Aku boleh minta nomor handphone mu gak ? “. “ oh iya boleh ko, catat yaah “ Andini pun menyebutkan nomor handphonenya. Akhirnya mereka pun semakin sering berkomunikasi, membicarakan hal-hal tentang materi kuliah masing-masing, tentang hobi mereka yang sama. Mereka memilik hobi yang sama, yaitu fotografi dan mereka sering bertukar pikiran tentang hal-hal berbau fotografi. Sampai pada akhirnya Satria mengajak Andini untuk hunting mencari tempat yang pas untuk mereka ber foto ria. Mereka memilih taman sebagai lokasi untuk foto-foto mereka, terlihat penuh keceriaan. Tak ada lagi kesedihan yang terlihat dari raut wajah Andini, semua berjalan begitu indah. Sering mereka melakukan banyak hal secara bersamaan, seperti jalan-jalan, makan, hunting lokasi pemotretan, dan menonton film di bioskop. Nampaknya di antara mereka masing-masing mulai tumbuh benih-benih cinta. Sampai pada akhirnya disuatu tempat saat mereka sedang berjalan-jalan bersama, Satria pun menyatakan cintanya kepada Andini dengan sekuntum bunga mawar merah dan kasih sayang yang tulus darinya. Akhirnya semua perjuangannya berujung manis, Andini pun menerima cintanya. Semakin hari semakin sering mereka melakukan banyak hal bersama-sama dan semakin kuat pula ikatan cinta mereka. Sempat mereka berpikir “mungkin inilah cinta sejati ku”, tapi beberapa minggu terakhir sudah tak ada kabar lagi dari Satria untuk Andini. Dan Andini pun bingung dan khawatir dengan keadaan kekasihnya tersebut, ia mencoba menelpon ke telepon genggam milik Satria tapi tak diangkat, ia mencoba menelpon ke telepon rumahnya pun tak ada jawaban. Andini takut bila terjadi hal buruk yang menimpa kekasihnya itu. Dan ternyata kekasihnya tersebut dirawat disebuah rumah sakit karena penyakit kanker otak yang dideritanya sejak lama kambuh kembali dan menjadi semakin parah. Satria selalu menyembunyikan hal ini kepada Andini dengan alasan ia tak ingin melihat Andini sedih. Lambat laun rahasia Satria terungkap ketika salah seorang temannya memberi tahukan keadaan Satria yang sedang dirawat di rumah sakit kepada Andini. Mendengar kabar tersebut Andini pun langsung bergegas menuju ke rumah sakit tempat dimana kekasihnya dirawat. Dengan air mata yang jatuh dan kepanikan yang menjadi-jadi Andini berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit dan mencari dimana ruangan tempat kekasihnya dirawat. Setelah menemukan ruangan tersebut, Andini mencari Satria, dan dipeluknya erat Satria sambil Andini menangis. “ Sudah sayang, kamu jangan nangis. Aku gak papa ko “ kata Satria Tegar. Andini pun terus menangis sekencang-kencangnya seakan takut kehilangan kekasihnya. Dihapusnya air mata Andini yang jatuh  ke pipi oleh Satria, Andini terus memeluk Satria dan tak mau melepaskannya.

Dihari-hari berikutnya Andini selalu menemani Satria di rumah sakit, merawatnya, menghiburnya, dan mengajaknya bercanda bersama. Dan disuatu malam ketika Andini sedang menemani Satria, tiba-tiba satria berkata “ Aku gak mau tidur yah ? Aku takut kalau nanti gak bangun lagi “. Mendengar perkataan tersebut Andini pun semakin takut dan terus menggenggam tangan  Satria sambil berkataa “ Sayang kamu gak boleh ngomong gitu, umur tuh rahasia tuhan. Kamu pasti sebuh pahlawanku, sekarang kamu istirahat yaah.. biar kamu cepat sembuh dan nanti kita bisa jalan-jalan lagi, hunting foto bareng lagi,kita nonton-nonton lagi “  Andini pun tak kuasa menahan tangis. Ketika pagi tiba dan sudah tiba waktu untuk dokter memeriksa kondisi Satria, Andini pun membangunkan Satria dengan lembutnya. “ Good morning sayang, ayo bangun. Pak dokter mau periksa kamu nih. Kali aja hari ini kamu bisa pulang ”. Dan tak ada respons dari Satria, Satria tetap tertidur dengan lelapnya. Terus dibangunkan namun satria tak kunjung menyaut, Andini pun semakin panik dan ketakutan. “ Mari biar saya cek “ kata pak dokter. Dokter tersebut pun segera memeriksa keadaan Satria, setelah memeriksa keadaan Satria dokter pun memegang pergelangan tangannya apakah masih ada denyut nadinya atau tidak. Ternyata nadi Satria sudah berhenti berdenyut dan dokter pun menutupi seluruh tubuh Satria dengan sebuah kain yang digunakan biasa sebagai selimut. Andini pun kaget dan bingung dengan apa yang terjadi saat itu, dan Andini pun bertanya dengan paniknya kepada dokter tersebut “ Dok apa yang terjadi dengan pacar saya dok ?!! “. “ Ikhlas kan lah kepergiannya, ia telah pergi meninggalkan kita semua ” jawab si dokter. Andini pun tak percaya dan langsung memeluk jasad kekasihnya yang sudah tak bernyawa, Andini pun tak kuasa menahan tangis atas kepergian Satria yang sangat ia cintai. Andini terus mencoba membangunkan kekasihnya yang sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya, dan berharap ada sebuah keajaiban agar Satria bisa hidup kembali dan melewati hari-harinya bersama kembali.

 Semenjak Satria meninggalkannya untuk selama-lamanya ia hanya bisa menghabiskan waktunya dengan menangis dan melamun mengingat masa indah mereka saat mereka melakukan segala hal secara bersama. Semakin hari semakin dalam rasa rindunya kepada Satria, kini ia hanya bisa menatapnya melalui foto-foto yang tertempel didinding kamarnya. Semakin dalam ia menatap foto-foto itu semakin dalam pula rasa sedih yang dirasakannya. Namun kini ia mencoba untuk tegar dan ikhlas atas apa yang telah terjadi kepada kekasih yang sangat ia cintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar